Solo Menari 2026: Ribuan Penari Usia 4 Hingga 84 Tahun Kompak Mainkan Kipas di Depan Balaikota

1 day ago 10
Kota Solo kembali memukau dunia melalui perhelatan budaya tahunan bertajuk Solo Menari 2026. Sebanyak 1.700 penari tumpah ruah di koridor depan Balaikota Solo untuk menari serentak dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia, Rabu (29/04/2026) sore. Ando

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM -– Kota Solo kembali memukau dunia melalui perhelatan budaya tahunan bertajuk Solo Menari 2026. Sebanyak 1.700 penari tumpah ruah di koridor depan Balaikota Solo untuk menari serentak dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia, Rabu (29/04/2026) sore.

Tahun ini, Solo Menari mengusung tema “Kipas”. Ribuan penari dari berbagai usia dan latar belakang tampak berlenggak-lenggok sinkron dengan kipas di tangan, menciptakan pemandangan kolosal yang memukau ribuan penonton di titik nol Kota Surakarta.

Wakil Walikota Solo, Astrid Widayani, yang turut menari bersama jajaran Forkopimda, memberikan apresiasi tinggi atas kemeriahan acara tersebut. Menurutnya, event ini menjadi simbol persatuan seluruh elemen masyarakat.

“Sangat meriah, ada pentas kolosal gabungan dari beragam unsur di Kota Surakarta. Mulai dari sanggar, sekolah, hingga komunitas bersatu padu. Ini kebanggaan kita bersama karena ada wadah festival yang merayakan sejarah dan budaya kita,” ungkap Astrid usai acara.

Astrid juga menambahkan bahwa rangkaian acara ini juga mencakup sarasehan yang melibatkan 70 sanggar tari di Solo. “Harapannya, Solo Menari semakin meneguhkan posisi Solo sebagai Kota Budaya yang kaya sejarah,” tandasnya.

Filosofi Kipas dan Panggung Inklusi
Direktur Program Solo Menari, Heru Mataya, menjelaskan alasan pemilihan tema kipas tahun ini. Menurutnya, kipas merupakan simbol budaya yang universal karena hampir setiap daerah di Indonesia memiliki tarian kipas dengan filosofi yang beragam.

“Kipas menjadi sumber inspirasi dari riset panjang. Kami menghadirkan tarian kontemporer yang berangkat dari tradisi. Menarik melihat bagaimana para penari mengekspresikan kipas dari berbagai ragam daerah,” jelas Heru.

Menariknya, Solo Menari 2026 bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah panggung inklusi. Peserta yang terlibat memiliki rentang usia yang sangat kontras, mulai dari balita berusia 4 tahun hingga maestro tari berusia 84 tahun.

Tak hanya itu, sebanyak 72 penyandang disabilitas dan kelompok penyintas kanker (penari Bedaya) juga turut ambil bagian. “Solo Menari dalam panggung kolosal ini sebenarnya adalah panggung inklusi. Kami melibatkan semua, bukan hanya dari Solo. Dari 1.700 peserta, sekitar 700 penari justru datang dari luar kota di seluruh Indonesia,” pungkas Heru. Ando

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|