Oleh: Hanis Nurwidati
Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) Univet Bantara Sukoharjo
Selama puluhan tahun, wajah pendidikan kita sering kali direduksi menjadi selembar kertas ujian di akhir semester. Di sana, nasib seorang siswa ditentukan oleh deretan angka. Jika angka di atas KKM, mereka dianggap berhasil; jika di bawahnya, mereka dicap gagal. Pola “penilaian tradisional” ini, meski praktis secara administratif, sering kali mengabaikan satu hal yang paling fundamental: proses kemanusiaan dalam belajar.
Saat ini, implementasi Kurikulum Merdeka yang masif diterapkan menjadi momentum emas untuk mengakhiri tradisi tersebut. Melalui semangat “Merdeka Belajar”, kita sedang berada di ambang revolusi penilaian melalui Penilaian Berbasis Kelas (PBK). Ini bukan sekadar perubahan istilah teknis, melainkan pergeseran paradigma tentang bagaimana kita memandang potensi seorang manusia di balik meja belajar.
Memecah Belenggu Standarisasi
Penilaian tradisional cenderung bersifat judgmental dan satu arah. Ia bagaikan sebuah “potret” sesaat yang diambil di akhir perjalanan. Masalahnya, potret tersebut tidak pernah bercerita tentang seberapa keras siswa berusaha atau bagaimana mereka bangkit dari kesalahan. Dalam Kurikulum Merdeka, fokus kita kini beralih pada asesmen formatif yang lebih mengutamakan pertumbuhan karakter daripada sekadar asesmen sumatif yang membebani.
Sebaliknya, PBK hadir sebagai “rekaman video” yang utuh. PBK tidak menunggu hingga akhir semester untuk menghakimi siswa. Melalui observasi, portofolio, hingga penilaian diri, guru tidak lagi bertindak sebagai hakim garis yang hanya meniup peluit saat terjadi pelanggaran, melainkan sebagai mentor yang membimbing setiap langkah perkembangan siswa demi mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.
Menghargai Keunikan melalui Bahasa
Sebagai contoh dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, esensi memanusiakan siswa sangat terasa dalam PBK. Jika penilaian tradisional hanya menuntut siswa memilih jawaban A, B, atau C pada soal struktur kalimat, PBK memberikan ruang bagi mereka untuk unjuk rasa.
Siswa dinilai dari bagaimana mereka berargumen dalam sebuah diskusi, bagaimana mereka menuangkan keresahan hati dalam tulisan kreatif, hingga bagaimana mereka mengapresiasi sastra dengan hati. Di sini, nilai tidak lagi kaku. Kita tidak lagi memaksa setiap anak menjadi ahli tata bahasa yang kaku, melainkan merayakan kemampuan mereka dalam berkomunikasi dan mengekspresikan diri secara autentik.
Membangun Karakter di Atas Skor
Revolusi terbesar dari PBK adalah transformasi mentalitas. Dalam sistem tradisional, siswa sering kali belajar demi nilai (learning for grades), yang memicu budaya menyontek dan kecemasan.
PBK mengembalikan marwah belajar yang sebenarnya. Karena penilaian mencakup aspek sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotor), siswa diajak menghargai proses. Mereka belajar bahwa kesalahan dalam draf tulisan atau kegugupan saat berpidato adalah bagian dari pembelajaran, bukan akhir dari segalanya. Inilah esensi memanusiakan siswa: membangun kepercayaan diri bahwa mereka lebih berharga daripada sekadar angka di atas rapor.
Penutup
Tentu, transisi menuju PBK bukan tanpa tantangan. Guru dituntut untuk lebih jeli dan kreatif dalam mendokumentasikan proses belajar. Namun, jika kita sepakat bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia, maka revolusi penilaian ini tidak boleh ditunda lagi.
Sudah saatnya kita berhenti menghidupi sistem yang hanya melahirkan “penghafal ulung” dan mulai merayakan setiap inci perkembangan siswa di dalam kelas. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai garis finis, tapi tentang bagaimana setiap siswa mampu menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri.
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

1 day ago
11

















































