Duta Besar Chile untuk Indonesia, Mario Ignacio Artaza Loyola, hadir secara langsung dan melakukan pertemuan dengan Sinuhun Paku Buwana XIV Hangabehi. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, ditandai dengan pertukaran cenderamata antara kedua pihak sebagai simbol persahabatan dan penghormatan budaya. Istimewa. SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM –Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menegaskan perannya sebagai pusat kebudayaan Jawa melalui penyelenggaraan Kraton Art Festival 2026 di Bangsal Smarakata dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga momentum refleksi mendalam mengenai masa depan kebudayaan Jawa di tengah dinamika global.
Dengan menggabungkan pertunjukan seni adiluhung, diplomasi budaya, serta gagasan intelektual, acara ini menandai kebangkitan kembali peran Keraton Surakarta sebagai pusat kebudayaan yang hidup, dinamis, dan relevan.
Acara ini dihadiri oleh keluarga besar Keraton, para abdi dalem, seniman, budayawan, akademisi, serta tamu undangan dari dalam dan luar negeri.
Diplomasi Budaya: Pertemuan Indonesia–Chile di Keraton Surakarta
Rangkaian kegiatan diawali dengan pertemuan budaya di Sasana Handrawina yang mempertemukan Keraton Surakarta dengan delegasi seni budaya dari Chile.
Dalam kesempatan tersebut, Duta Besar Chile untuk Indonesia, Mario Ignacio Artaza Loyola, hadir secara langsung dan melakukan pertemuan dengan Sinuhun Paku Buwana XIV Hangabehi.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, ditandai dengan pertukaran cenderamata antara kedua pihak sebagai simbol persahabatan dan penghormatan budaya.
Momentum ini menjadi bagian penting dari diplomasi budaya yang memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Chile melalui pendekatan seni dan tradisi. Interaksi ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga membuka ruang kolaborasi kebudayaan di masa depan.
Keraton Surakarta menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi jembatan efektif dalam membangun hubungan antarbangsa yang harmonis.
Kraton Art Festival: Panggung Seni dan Refleksi Peradaban
Memasuki agenda utama di Bangsal Smarakata, Kraton Art Festival 2026 menghadirkan pertunjukan seni klasik yang sarat nilai filosofis dan spiritual.
Dua karya utama yang ditampilkan adalah Tari Bedhaya Sukamulya dan fragmen Tari Topeng Panji Sekartaji, yang masing-masing merepresentasikan kedalaman estetika dan makna budaya Jawa.
Tari Bedhaya Sukamulya: Persembahan untuk PB XII
Tari Bedhaya Sukamulya merupakan karya adiluhung ciptaan GKR Koes Moertiyah Wandansari, yang dipersembahkan sebagai pisungsung kepada ayahandanya, Paku Buwana XII, dalam rangka memperingati usia ke-80 beliau.
Tarian ini mengandung nilai filosofis yang mendalam. Nama “Sukamulya” berasal dari kata:
- Suko (kebahagiaan)
- Mulyo (kemuliaan)
Makna tersebut mencerminkan harapan agar keturunan Dinasti Mataram senantiasa hidup dalam kebahagiaan yang dilandasi keluhuran budi.
Nilai-nilai ini juga tercermin dalam cakepan sindhen yang sarat pesan moral dan spiritual, menjadikan tarian ini tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai tuntunan.
Iringan musik digarap oleh para abdi dalem pengrawit di bawah pimpinan Raden Tumenggung Sunarno, maestro karawitan Keraton.
Tarian ini dibawakan oleh para penari pilihan, termasuk dari kalangan keluarga Keraton, sehingga memperkuat nilai sakral dan autentisitasnya.
Gusti Moeng menegaskan bahwa dirinya hanya menyusun kembali warisan leluhur.
“Saya tidak berani mengatakan sebagai pencipta tari. Saya hanya menyusun dari karya-karya luar biasa yang telah diciptakan oleh para leluhur,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan dari Paku Buwana XII untuk menjaga kelestarian budaya, khususnya Bedhaya Ketawang sebagai induk dari seluruh tari Jawa.
Fragmen Tari Topeng Panji Sekartaji: Kisah Cinta dan Perjuangan
Fragmen Tari Topeng Sekartaji mengangkat kisah klasik tentang Dewi Sekartaji (Candra Kirana) dan Raden Panji Asmorobangun.
Kisah ini menggambarkan perjalanan Panji dalam mencari Sekartaji yang hilang, melalui berbagai rintangan, penyamaran, serta konflik cinta segitiga dengan Raja Klana sebagai tokoh antagonis.
Fragmen ini menyampaikan nilai-nilai universal seperti:
- Kesetiaan
- Pengorbanan
- Perjuangan
- Keteguhan hati
Kisah Panji sendiri dikenal luas hingga ke Asia Tenggara, menjadikannya bagian dari warisan budaya yang memiliki dimensi internasional.
Mengembalikan Budaya ke Sumbernya
Menurut Gusti Moeng, penyelenggaraan festival di Bangsal Smarakata selama tiga tahun terakhir merupakan langkah strategis untuk mengembalikan pusat kegiatan budaya ke lingkungan Keraton.
“Kenapa justru di sumbernya tidak ada kegiatan? Oleh sebab itu, kami mengadakan di sini agar masyarakat bisa merasakan langsung kekayaan budaya Keraton Surakarta,” ujarnya.
Langkah ini bertujuan untuk membumikan kembali budaya kepada masyarakat luas.
Keraton sebagai Laboratorium Budaya
Dalam pidatonya, Gusti Moeng menegaskan konsep Keraton sebagai laboratorium budaya, yaitu ruang hidup untuk proses pembelajaran, praktik, dan regenerasi kebudayaan.
Ia menekankan bahwa kekuatan utama Keraton terletak pada manusia dan pengetahuan yang dimilikinya.
“Mumpung para pelaku budaya masih ada, maka yang harus dijaga adalah manusianya,” tegasnya.
Kegelisahan atas Pudarnya Pakem
Gusti Moeng juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap mulai terpinggirkannya pakem Keraton dalam praktik seni modern.
“Kalau dalam pembelajaran tidak ada dan tidak diakui, ini menjadi memalukan,” ujarnya.
Hal ini menjadi tantangan yang harus dijawab melalui sistem pendidikan yang lebih kuat.
Orasi Sardono W. Kusumo: Konservatorium Budaya Jawa
Dalam orasi kebudayaan, Sardono W. Kusumo menekankan pentingnya transformasi Keraton menjadi konservatorium seni budaya Jawa.
Ia mengingatkan bahwa tanpa sistem yang tepat, budaya Jawa berpotensi mengalami kemunduran.
“Budaya Jawa ini penuh dengan literasi. Yang dibutuhkan adalah sistem dan wadah agar bisa terus hidup,” ujarnya.
Peran Historis Keraton dalam NKRI
Sardono juga menyoroti peran besar Paku Buwana XII dalam sejarah Indonesia, khususnya dalam keputusan untuk bergabung dengan NKRI.
Langkah tersebut menunjukkan kontribusi nyata Keraton dalam perjalanan bangsa.
Revitalisasi dan Kolaborasi Strategis
Sinuhun Paku Buwana XIV Hangabehi menegaskan pentingnya revitalisasi menyeluruh, baik fisik maupun nilai budaya.
Sebagai langkah konkret, Keraton Surakarta tengah mengembangkan kerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui pembentukan Lembaga Studi Kebudayaan.
Kraton Art Festival 2026 menjadi simbol kebangkitan budaya Jawa yang berakar pada tradisi namun terbuka terhadap dunia.
Melalui diplomasi budaya, penguatan pendidikan, serta kolaborasi lintas sektor, Keraton Surakarta Hadiningrat menegaskan kembali posisinya sebagai pusat kebudayaan yang hidup dan relevan.
(Pengageng Sasana Wilapa dan Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat)
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

9 hours ago
4
















































