Ricuh di Waena, Tertib Di Abepura

1 day ago 9

JAYAPURA – Aksi demonstrasi mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Papua (Somap) di Kota Jayapura ricuh, Senin (27/4). Kericuhan terjadi sekitar pukul 8.00 WIT di Depan Densipur 10/KYD Waena Jayapura, saat massa aksi hendak melakukan longmarch ke lingkaran Abepura.

Kericuhan bermula ketika massa aksi yang akan bertolak dari titik kumpul di Perumnas III, Expo dan serta Asrama Tolikara, hendak menuju Lingkaran Abepura, dihadang polisi dan Brimob di depan Zipur Waena.

Meski sempat terjadi negosiasi antara demonstran dan pihak kepolisian, namun tidak mendapat titik temu. Aparat meminta massa tidak melanjutkan longmarch dan kembali ke Expo Waena menggunakan kendaraan yang telah disiapkan, dengan alasan menjaga keamanan dan ketertiban di sepanjang jalur yang akan dilalui.

Namun, massa aksi yang ada di lokasi tak terima dengan itu, adu mulutpun terjadi.

Aparat keamanan sontak mengambil tindakan tegas dengan melepaskan gas air mata setelah negosiasi pembubaran massa menemui jalan buntu.

Negosiator Aksi Demonstrasi, Yohanis Walilo mengatakan, awalnya mereka bernegosiasi bersama pihak keamanan. Polisi meminta agar massa aksi kembali ke Expo menggunakan truk. Namun mahasiswa meminta agar polisi mengawal massa ke lingkaran.

Menurut pengakuannya, saat negosiasi berlangsung massa aksi dipukul pakai tongkat karet oleh oknum polisi, lalu polisi mengeluarkan gas air mata. Akhirnya massa aksi membubarkan diri karena semprotan air mata yang kenudian melakukan aksi balasan dengan melempar batu.

”Saat bernegosisasi kami minta pihak kemananan kawal saja, tetapi mereka dapat perintah lagi untuk dibubarkan saja,” ujar Yohanes.

Dari pantauan Cenderawasih Pos di lokasi terlihat masa aksi demonstrasi membawa spanduk bertuliskan ‘Papua Darurat Militer dan Kemanusiaan’. Suara letusan gas air mata sontak memecah suasana. Massa aksi yang tidak siap langsung terpukul mundur dan berlarian menyelamatkan diri ke berbagai arah.

Kericuhan tersebut sempat membuat aktivitas di kawasan Waena lumpuh total.

Sejumlah kios memilih menutup sementara, pedagang meninggalkan lapak, dan kendaraan yang melintas berhenti karena situasi tidak aman. Meski sempat mencekam, namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama diwilayah Waena.

Namun, situasi kembali mencekam setelah masa aksi yang datang dari expo, Perumnas 1 bergabung ke masa aksi yang ada di Kampus USTJ dan Uncen Abepura melewati Jalan Sosial tembus pandang bulan Abepura.

Tempatnya di kampus USTJ dan Uncen masa aksi diduga mencoba memperovokasi aparat kemanan bertugas, dimana masa terlihat menutupi jalan utama, yang mengakibatkan situasi di wilayah tersebut macet panjang.

Kondisi ini membuat aparat keamanan kesal karena masa aksi tidak konsisten dengan kesepakatan sebelumnya. Saling lemparpun tak terhindar antara aparat keamanan dengan masa aksi, yang menimbulkan sekira tiga personil polisi mengalami luka serius.

Lenius selaku Negosiator dalam keterangan sepintasnya di USTJ menyampaikan bahwa pihaknya menuntut pemerintah Hentikan oprasi Militer di wilayah sipil.

JAYAPURA – Aksi demonstrasi mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Papua (Somap) di Kota Jayapura ricuh, Senin (27/4). Kericuhan terjadi sekitar pukul 8.00 WIT di Depan Densipur 10/KYD Waena Jayapura, saat massa aksi hendak melakukan longmarch ke lingkaran Abepura.

Kericuhan bermula ketika massa aksi yang akan bertolak dari titik kumpul di Perumnas III, Expo dan serta Asrama Tolikara, hendak menuju Lingkaran Abepura, dihadang polisi dan Brimob di depan Zipur Waena.

Meski sempat terjadi negosiasi antara demonstran dan pihak kepolisian, namun tidak mendapat titik temu. Aparat meminta massa tidak melanjutkan longmarch dan kembali ke Expo Waena menggunakan kendaraan yang telah disiapkan, dengan alasan menjaga keamanan dan ketertiban di sepanjang jalur yang akan dilalui.

Namun, massa aksi yang ada di lokasi tak terima dengan itu, adu mulutpun terjadi.

Aparat keamanan sontak mengambil tindakan tegas dengan melepaskan gas air mata setelah negosiasi pembubaran massa menemui jalan buntu.

Negosiator Aksi Demonstrasi, Yohanis Walilo mengatakan, awalnya mereka bernegosiasi bersama pihak keamanan. Polisi meminta agar massa aksi kembali ke Expo menggunakan truk. Namun mahasiswa meminta agar polisi mengawal massa ke lingkaran.

Menurut pengakuannya, saat negosiasi berlangsung massa aksi dipukul pakai tongkat karet oleh oknum polisi, lalu polisi mengeluarkan gas air mata. Akhirnya massa aksi membubarkan diri karena semprotan air mata yang kenudian melakukan aksi balasan dengan melempar batu.

”Saat bernegosisasi kami minta pihak kemananan kawal saja, tetapi mereka dapat perintah lagi untuk dibubarkan saja,” ujar Yohanes.

Dari pantauan Cenderawasih Pos di lokasi terlihat masa aksi demonstrasi membawa spanduk bertuliskan ‘Papua Darurat Militer dan Kemanusiaan’. Suara letusan gas air mata sontak memecah suasana. Massa aksi yang tidak siap langsung terpukul mundur dan berlarian menyelamatkan diri ke berbagai arah.

Kericuhan tersebut sempat membuat aktivitas di kawasan Waena lumpuh total.

Sejumlah kios memilih menutup sementara, pedagang meninggalkan lapak, dan kendaraan yang melintas berhenti karena situasi tidak aman. Meski sempat mencekam, namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama diwilayah Waena.

Namun, situasi kembali mencekam setelah masa aksi yang datang dari expo, Perumnas 1 bergabung ke masa aksi yang ada di Kampus USTJ dan Uncen Abepura melewati Jalan Sosial tembus pandang bulan Abepura.

Tempatnya di kampus USTJ dan Uncen masa aksi diduga mencoba memperovokasi aparat kemanan bertugas, dimana masa terlihat menutupi jalan utama, yang mengakibatkan situasi di wilayah tersebut macet panjang.

Kondisi ini membuat aparat keamanan kesal karena masa aksi tidak konsisten dengan kesepakatan sebelumnya. Saling lemparpun tak terhindar antara aparat keamanan dengan masa aksi, yang menimbulkan sekira tiga personil polisi mengalami luka serius.

Lenius selaku Negosiator dalam keterangan sepintasnya di USTJ menyampaikan bahwa pihaknya menuntut pemerintah Hentikan oprasi Militer di wilayah sipil.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|