Penggunaan Bahasa Jawa Krama di SMPN 2 Girimarto Wonogiri Melonjak 70 Persen, Kuncinya Jurus Jawara Srawung Budaya

20 hours ago 11
GamelanPementasan seni karawitan di SMPN 2 Girimarto Wonogiri. Dok. SMPN 2 Girimarto

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM Bahasa Jawa krama yang mulai jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari siswa mendapat perhatian serius dari SMP Negeri 2 Girimarto, Wonogiri. Sekolah tersebut meluncurkan inovasi “Jawara Srawung Budaya”, sebuah program yang menggabungkan pembiasaan unggah-ungguh, literasi Jawa, kesenian, hingga pembelajaran berbasis proyek.

Program tersebut dirancang untuk menghidupkan kembali kebiasaan bertutur santun sekaligus memperkuat karakter dan kecintaan peserta didik terhadap budaya lokal.

Inovator “Jawara Srawung Budaya”, Yheni Tunggal Mring Astuti, menjelaskan program tersebut disusun berdasarkan hasil asesmen diagnostik, pengamatan pendidik, serta evaluasi diri sekolah.

Data awal yang dihimpun sekolah menunjukkan penggunaan bahasa Jawa krama dalam komunikasi sehari-hari baru mencapai sekitar 25 persen. Apresiasi terhadap budaya Jawa berada di angka 30 persen, sedangkan partisipasi aktif peserta didik dalam kegiatan kebudayaan baru sekitar 20 persen.

Pada aspek karakter, sekitar 35 persen peserta didik tercatat konsisten menunjukkan sikap toleran dan kepedulian sosial terhadap pendidik maupun teman.

“Berdasarkan evaluasi pembelajaran dan pengamatan perilaku harian di sekolah, interaksi verbal peserta didik sebelumnya cenderung didominasi oleh bahasa gaul atau campuran bahasa Indonesia dan istilah asing. Dampaknya, tingkat kebiasaan bertutur bahasa Jawa krama yang memuat nilai-nilai kesantunan tergolong rendah. Melalui inovasi Jawara Srawung Budaya, kami berupaya mengintegrasikan pembiasaan etika dan unggah-ungguh ke dalam ekosistem belajar secara pembiasaan (habituation) dan kontekstual,” jelas Yheni saat memaparkan latar belakang program, Selasa (22/9/2026).

Salah satu strategi yang diterapkan sekolah adalah “4 Kata Ajaib”. Ungkapan-ungkapan kesantunan Jawa diperkenalkan melalui poster edukasi yang dipasang di ruang kelas maupun sejumlah titik strategis sekolah.

Empat ungkapan tersebut yakni:

✓ Ndherek langkung
✓ Kulanuwun
✓ Nuwun sewu
✓ Maturnuwun

Keempatnya kemudian dibiasakan dalam komunikasi harian siswa sehingga bahasa Jawa tidak hanya dipelajari sebagai materi, tetapi digunakan dalam interaksi di lingkungan sekolah.

Program tersebut kemudian diperkuat melalui kegiatan ko-kurikuler mingguan. SMPN 2 Girimarto menjalankan “Rabu Literasi Jawa” dan “Kamis Budaya” sebagai bagian dari rangkaian Jawara Srawung Budaya.

Pada Rabu Literasi Jawa, siswa diajak membaca dan menginterpretasikan berbagai teks yang berkaitan dengan sastra serta kearifan lokal. Materinya antara lain cerita rakyat, kisah pewayangan, Aksara Jawa hingga tembang macapat.

Sementara Kamis Budaya dikemas dengan pembiasaan penggunaan bahasa Jawa dalam interaksi pembelajaran dan komunikasi di lingkungan sekolah. Suasana budaya Jawa juga diperkuat dengan alunan musik gamelan serta tembang macapat saat jam istirahat.

Tidak berhenti pada penggunaan bahasa, siswa juga diberi ruang untuk mengekspresikan budaya melalui karya kreatif.

Pembelajaran berbasis proyek atau Project-Based Learning menjadi salah satu wadahnya. Siswa berkolaborasi menghasilkan berbagai pertunjukan dan karya seni, mulai dari nembang, pembacaan geguritan, mendongeng, teater tradisional, kaligrafi Aksara Jawa, seni tari hingga olah vokal dengan iringan musik gamelan secara langsung.

Kepala SMPN 2 Girimarto, Rahayu Widayanti, mengatakan penerapan program tersebut membawa perubahan pada sejumlah indikator yang menjadi sasaran inovasi.

“Alhamdulillah, implementasi program ini menunjukkan transformasi yang amat signifikan. Penggunaan bahasa Jawa krama di kalangan peserta didik melonjak hingga 70%, dan sebanyak 75% peserta didik kini memiliki kecintaan yang kuat terhadap budaya Jawa. Tingkat partisipasi aktif murid dalam kegiatan kebudayaan pun menembus angka 80%, disertai peningkatan sikap toleransi dan kepedulian sosial yang mencapai 78%. Dampak nyata ini turut mendongkrak Indeks Karakter pada Rapor Pendidikan SMPN 2 Girimarto sebesar 1,49% hingga mencapai angka 69,69%,” ungkap Rahayu Widayanti.

Perubahan tersebut menunjukkan arah pengembangan program yang tidak hanya menyasar kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa Jawa, tetapi juga menghubungkannya dengan pembentukan karakter.

Sekolah memadukan pembiasaan sehari-hari, literasi budaya, kegiatan seni dan pembelajaran berbasis proyek dalam satu ekosistem pendidikan.

Dengan pola tersebut, budaya Jawa ditempatkan bukan hanya sebagai materi pembelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari perilaku siswa ketika berinteraksi dengan guru maupun sesama teman.

Jawara Srawung Budaya” akhirnya menjadi program yang mempertemukan tiga hal sekaligus: kemampuan berbahasa, kecintaan terhadap budaya lokal, dan pembentukan karakter peserta didik.

SMPN 2 Girimarto menjadikan inovasi tersebut sebagai upaya menjaga agar nilai unggah-ungguh dan kearifan lokal tetap memiliki ruang di tengah perubahan pola komunikasi generasi muda. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|