Pertalite Langka Imbas Harga Pertamax Tembus Rp16.250, Ramai-Ramai Tinggalkan BBM Nonsubsidi

5 hours ago 5
BBMAntrian pembelian pertalite di sebuah SPBU di Wonogiri. Joglosemarnews.com/Aris Arianto

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kenaikan drastis harga BBM nonsubsidi kembali memicu efek domino di tengah masyarakat. Baru saja harga Pertamax resmi melonjak menjadi Rp16.250 per liter, fenomena peralihan pengguna langsung terlihat di berbagai SPBU.

Rabu (10/6/2026), antrean kendaraan yang membeli Pertalite tampak lebih padat dibanding hari-hari sebelumnya. Kini, setelah selisih harga semakin jauh, banyak pengendara memilih beralih ke BBM subsidi demi menekan pengeluaran harian.

Kondisi tersebut terlihat di sejumlah SPBU yang melayani pembelian Pertalite di wilayah Wonogiri dan sekitarnya. Antrean kendaraan mengular terutama pada jam-jam sibuk pagi. Beberapa pengendara mengaku terpaksa mengubah kebiasaan karena biaya operasional kendaraan meningkat tajam setelah harga Pertamax mengalami kenaikan hampir Rp4.000 per liter.

“Sebelumnya saya isi Pertamax terus karena motor masih baru. Tapi kalau sekarang Rp16 ribuan per liter, berat juga. Terpaksa beralih ke Pertalite supaya pengeluaran tidak membengkak,” ujar Dwi, seorang pekerja swasta di Wonogiri.

Dia memprediksi bisa jadi pertalite akan benar benar langka. Yang dia khawatirkan adalah pemerintah akhirnya menghapus BBM subsidi.

“Tidak bisa membayangkan kalau hal itu benar-benar terjadi,” sebut dia.

Keluhan serupa disampaikan Arif, pengemudi ojek online. Menurutnya, kenaikan harga Pertamax sangat berpengaruh terhadap pendapatan harian yang diperoleh di lapangan.

“Kalau sehari habis beberapa liter, selisihnya lumayan besar. Pendapatan belum tentu naik, jadi mau tidak mau cari yang lebih terjangkau,” katanya.

Fenomena migrasi pengguna dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi juga mulai dirasakan para pedagang BBM eceran. Sejumlah lapak penjualan Pertalite eceran di beberapa wilayah Wonogiri mengaku mengalami peningkatan pembeli dalam.

Bahkan, beberapa pedagang menyebut stok yang mereka miliki lebih cepat habis dibanding biasanya karena tingginya permintaan masyarakat.

“Sekarang yang cari Pertalite lebih banyak. Biasanya masih ada stok sampai malam, sekarang sudah habis,” ungkap salah satu pedagang BBM eceran.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga Pertamax tidak hanya berdampak pada pola konsumsi masyarakat, tetapi juga mengubah peta permintaan BBM di tingkat bawah. Ketika harga BBM nonsubsidi melonjak tajam, pilihan paling realistis bagi sebagian besar pengguna kendaraan adalah beralih ke bahan bakar yang lebih murah.

Seperti diketahui, mulai 10 Juni 2026 harga Pertamax resmi naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Artinya terjadi kenaikan sebesar Rp3.950 per liter dalam satu kali penyesuaian harga.

Tak hanya Pertamax, Pertamax Green 95 juga mengalami lonjakan signifikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter atau naik Rp4.100 per liter.

Pertamina Patra Niaga menjelaskan bahwa penyesuaian harga dilakukan setelah evaluasi berkala yang mengacu pada perkembangan harga minyak mentah dunia serta harga pasar keekonomian. Kebijakan tersebut juga dilakukan sesuai regulasi yang berlaku dan hasil koordinasi dengan pemerintah.

Sementara itu, sejumlah produk BBM lainnya masih bertahan pada harga sebelumnya.

Daftar harga BBM Pertamina mulai 10 Juni 2026:

✓ Pertamax (RON 92): Rp16.250/liter

✓ Pertamax Green 95 (RON 95): Rp17.000/liter

✓ Pertamax Turbo (RON 98): Rp20.750/liter

✓ Dexlite (CN 51): Rp23.000/liter

✓ Pertamina Dex (CN 53): Rp24.800/liter

Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, kenaikan harga BBM nonsubsidi ini membuat banyak pemilik kendaraan harus menghitung ulang pengeluaran bulanan mereka. Akibatnya, Pertalite kini menjadi pilihan utama yang diburu masyarakat karena dianggap lebih ramah bagi kantong.

Jika tren perpindahan pengguna terus berlanjut, bukan tidak mungkin antrean panjang Pertalite di SPBU akan menjadi pemandangan yang semakin sering terlihat dalam beberapa waktu mendatang. Bahkan bisa jadi BBM subsidi menjadi sangat langka atau malah harganya naik, atau skenario yang banyak ditebak adalah BBM subsidi dihapus Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|