Menkeu Sebut Ada Dugaan Manipulasi Ekspor CPO, 10 Perusahaan Dibidik

18 hours ago 11
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa | Wikipedia

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Dugaan permainan kotor dalam ekspor komoditas strategis kembali mencuat. Sejumlah perusahaan sawit diduga sengaja memanipulasi nilai ekspor agar pembayaran yang tercatat di dalam negeri jauh lebih kecil dibanding nilai transaksi sebenarnya di luar negeri. Praktik ini diduga membuat negara kehilangan potensi devisa dalam jumlah besar.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, dugaan manipulasi tersebut kini tengah ditelusuri oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) bersama Kejaksaan Agung.

“Sudah, BPKP dan Kejagung sudah bergerak, saya masih nunggu laporan dari mereka, udah berapa bulan gitu. Jadi itu merupakan titik awal mereka masuk,” kata Purbaya di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Menurutnya, indikasi manipulasi harga ekspor atau under-invoicing memang terlihat jelas dalam sejumlah transaksi perusahaan sawit. Bahkan, ia menyebut praktik tersebut pada dasarnya merupakan bentuk penyelundupan berkedok administrasi perdagangan.

“Tapi yang jelas clear sekali emang ada manipulasi harga, itu under-invoicing apa? kalau saya bilang sih penyelundupan lah kira-kira gitu, walaupun namanya keren under-invoicing dan lain-lain, tapi basically nipu,” katanya.

Purbaya belum bersedia mengungkap identitas perusahaan-perusahaan yang diduga terlibat. Namun, ia memastikan praktik serupa tidak hanya ditemukan pada sektor crude palm oil (CPO), tetapi juga di industri batu bara.

“Ini yang CPO aja. Yang batu bara juga ada penemuan menarik nanti juga kita akan diskusi sama BPKP sama Kejaksaan,” ujarnya.

Sebelumnya, Purbaya sempat membawa sejumlah dokumen saat menghadiri undangan makan siang bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Kamis (21/5/2026). Dokumen itu disebut berisi daftar perusahaan yang diduga memainkan nilai ekspor.

“Ini jaga jaga aja kalau biar kalau ditanya bisa jawab. Ini ada beberapa catatan perusahaan CPO yang mana yang lakukan manipulasi harga. Jadi kalau ditanya (Presiden) saya akan jawab,” kata Purbaya.

Ia menjelaskan, data yang dibawanya memperlihatkan adanya perbedaan mencolok antara nilai ekspor yang dilaporkan di Indonesia dengan angka transaksi di negara tujuan, termasuk Amerika Serikat.

“Jadi ini ada 10 perusahaan besar, 3 pengapalan, masing masing perusahaan saya random pilih. Mereka kelihatan sekali melakukan manipulasi harga, ekspor ke Amerika misalnya,” kata Purbaya.

Dalam salah satu contoh, nilai ekspor yang dilaporkan hanya sekitar US$ 2,6 juta, sementara nilai sebenarnya di negara tujuan mencapai US$ 4,2 juta. Bahkan, ada perusahaan lain yang disebut mencatat selisih hingga lebih dari 200 persen.

“Jadi harganya di sini berapa itu cuma seperempat atau sepertiga apa yang ada di AS. Jadi income-nya rendah kan di sini jadi saya rugi banyak. Ada contohnya, nggak mau sebut perusahaannya,” katanya.

“Jadi 57 persen bedanya. Ada yang lebih gila lagi ada satu perusahaan lagi di sini ekspornya US$ 1,44 juta di sana US$ 4 jutaan berubah harga 200 persen,” lanjutnya.

Purbaya menambahkan, pemerintah kini mulai menelusuri data pengapalan secara lebih rinci untuk membongkar pola manipulasi tersebut. Ia menyebut daftar yang dimilikinya baru mencakup sektor CPO dan belum termasuk temuan pada komoditas batu bara.

“Kita mau detensi kapal per kapal jadi itu yang saya laporin kalau ditanya, kalau nggak ya nggak usah. Ini 10 besar. Ini baru CPO nanti ada batu bara juga,” pungkasnya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|