YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Wajah Malioboro yang selama puluhan tahun identik dengan lalu lalang kendaraan bermotor perlahan akan berubah. Pemerintah Daerah (Pemda) DIY kini tengah menyiapkan langkah besar untuk menjadikan jantung pariwisata Yogyakarta itu sebagai kawasan yang lebih ramah lingkungan dengan membatasi secara ketat kendaraan berbahan bakar minyak.
Targetnya cukup ambisius. Mulai akhir November 2026, kawasan Malioboro diharapkan terbebas dari operasional becak motor (bentor), sekaligus menjadi tonggak awal penerapan penuh konsep Low Emission Zone (LEZ) atau zona emisi rendah.
Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti, mengatakan penghapusan bentor dari Malioboro menjadi prioritas jangka pendek yang sedang dikejar pemerintah daerah.
“Target yang terdekat adalah di akhir November nanti enggak ada bentor di Malioboro. Jadi yang boleh melintas kan hanya yang non-BBM, seperti becak kayuh sama becak listrik. Itu target terdekat ya,” ujar Erni, Rabu (3/6/2026).
Dengan penerapan LEZ, akses kendaraan bermotor di kawasan Malioboro nantinya akan semakin dibatasi. Hanya moda transportasi tertentu yang tetap diperbolehkan melintas karena dinilai mendukung kebutuhan publik sekaligus sejalan dengan konsep pengurangan emisi.
“Jadi kan di sana low emission zone. Yang boleh melintas hanya kendaraan darurat, becak kayuh, becak listrik, lalu juga Trans Jogja. Untuk Trans Jogja juga kita upayakan nanti ada tambahan bus listriknya, supaya layanan semakin baik,” imbuhnya.
Keseriusan pemerintah mewujudkan kawasan rendah emisi itu ditandai dengan pemusnahan puluhan bentor menggunakan alat berat pada Rabu (3/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-79 Pemerintah Kota Yogyakarta sekaligus simbol dimulainya transformasi transportasi di kawasan sumbu filosofi.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan, pengurangan kendaraan berbahan bakar minyak merupakan bagian dari komitmen menjaga kualitas lingkungan di kawasan yang telah menjadi ikon wisata nasional tersebut.
Menurutnya, bentor yang dimusnahkan akan digantikan secara bertahap dengan becak listrik yang lebih ramah lingkungan. Para pengemudi yang bersedia menyerahkan armadanya juga memperoleh pengganti berupa becak listrik.
“Ya, lambat tapi pasti bahwa becak konvensional harus habis. Kemudian secara bertahap becak listrik hadir. Hari ini 50 unit (bentor) kita hancurkan,” tandas Hasto.
Ia menjelaskan, jumlah becak listrik yang telah beroperasi di Kota Yogyakarta saat ini mencapai sekitar 260 unit. Armada tersebut merupakan hasil pengadaan bertahap yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir, termasuk melalui dukungan dari berbagai pihak.
Ke depan, jumlah kendaraan ramah lingkungan itu akan terus ditambah hingga target transportasi rendah emisi di kawasan sumbu filosofi benar-benar terwujud.
“Bertahap, sampai (target) di sumbu filosofi menggunakan sarana transportasi yang minim terhadap polutan lingkungan ini tercapai,” pungkasnya.
Jika rencana tersebut berjalan sesuai jadwal, maka akhir 2026 akan menjadi babak baru bagi Malioboro. Kawasan yang selama ini menjadi etalase pariwisata Yogyakarta itu tak hanya menawarkan pengalaman wisata dan budaya, tetapi juga menjadi contoh penerapan transportasi rendah emisi di ruang publik perkotaan. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

17 hours ago
12

















































