Aktivitas Akademik maupun Administrasi Dihentikan, Fokus Beri Penghormatan Terakhir

9 hours ago 9

Melihat Akfivitas Kampus Uncen di Tengah Konflik Administrasi FK dan Suasana Duka

Suasana di lingkungan Universitas Cenderawasih (Uncen) mendadak lumpuh dan diselimuti ketegangan serta disusul suasana duka mendalam hingga Kamis (17/9). Perkuliahan dan pelayanan birokrasi kampus dipastikan tidak berjalan maksimal lantaran akses utama gapura Kampus Uncen Atas masih dipalang sejak Rabu (16/9) sore.

Laporan: Jimianus Karlodi _ Jayapura

Aksi pemalangan tersebut diprakarsai oleh aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM), serta Forum Komunikasi Uncen.

   Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun oleh Cenderawasih Pos, aksi penutupan gerbang ini merupakan kelanjutan dari gelombang protes yang belum menemukan titik terang sejak, Senin (14/9) kemarin.

  Massa aksi menduga adanya praktik penyimpangan dan ketidaktransparanan dari pihak manajemen universitas terkait nasib serta kejelasan masa depan 96 mahasiswa dokter muda Papua. Ketidakpuasan atas tanggapan pihak kampus sebelumnya memicu aksi nekat mahasiswa untuk menduduki dan menyegel fasilitas umum perguruan tinggi tersebut.

  Aksi penyegelan lapangan dipimpin langsung oleh Menteri Hukum dan HAM BEM Uncen, Darki Uropmabin, bersama para perwakilan BEM dan MPM. Dalam rilis pers tertulis yang diterima, mahasiswa secara tegas menyuarakan desakan mendasar serta tuduhan serius atas dinamika tata kelola yang sedang berlangsung di tubuh civitas akademika Uncen.

  Mereka menilai pihak universitas tidak sungguh-sungguh menyelesaikan persoalan yang merugikan ratusan mahasiswa kedokteran tersebut. “Ada manipulasi administrasi yang dilakukan oleh lembaga Uncen kepada mahasiswa Uncen,” tegas Darki dalam rilis resmi BEM dan MPM Uncen.

  Akar persoalan ini sebenarnya sempat dimediasi pada pertemuan aksi tanggal 14 September lalu. Kala itu, jajaran pimpinan universitas yang terdiri dari Wakil Rektor I, Wakil Rektor II, dan Wakil Rektor III, serta Dr. Septinus Saa yang ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Dekan Fakultas Kedokteran (FK), telah menerima dan merespon aspirasi massa. Pihak rektorat menjanjikan langkah cepat untuk menyelesaikan kejelasan status dan operasional di Fakultas Kedokteran.

  Namun, komitmen tersebut dinilai hanya menjadi janji manis di atas kertas semata. Dalam rentang waktu dua hari pascapertemuan terhitung sejak tanggal 14 hingga 16 September Dr. Septinus Saa yang telah ditunjuk resmi sebagai Plt Dekan diketahui tidak kunjung hadir secara fisik di Fakultas Kedokteran.

  Sebanyak 96 mahasiswa dokter muda Papua yang memuat harapan besar terpaksa menggantung nasib tanpa kepastian dan tanpa pendampingan pimpinan fakultas.

​Kekecewaan mahasiswa kian memuncak ketika upaya komunikasi langsung justru diabaikan.

Melihat Akfivitas Kampus Uncen di Tengah Konflik Administrasi FK dan Suasana Duka

Suasana di lingkungan Universitas Cenderawasih (Uncen) mendadak lumpuh dan diselimuti ketegangan serta disusul suasana duka mendalam hingga Kamis (17/9). Perkuliahan dan pelayanan birokrasi kampus dipastikan tidak berjalan maksimal lantaran akses utama gapura Kampus Uncen Atas masih dipalang sejak Rabu (16/9) sore.

Laporan: Jimianus Karlodi _ Jayapura

Aksi pemalangan tersebut diprakarsai oleh aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM), serta Forum Komunikasi Uncen.

   Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun oleh Cenderawasih Pos, aksi penutupan gerbang ini merupakan kelanjutan dari gelombang protes yang belum menemukan titik terang sejak, Senin (14/9) kemarin.

  Massa aksi menduga adanya praktik penyimpangan dan ketidaktransparanan dari pihak manajemen universitas terkait nasib serta kejelasan masa depan 96 mahasiswa dokter muda Papua. Ketidakpuasan atas tanggapan pihak kampus sebelumnya memicu aksi nekat mahasiswa untuk menduduki dan menyegel fasilitas umum perguruan tinggi tersebut.

  Aksi penyegelan lapangan dipimpin langsung oleh Menteri Hukum dan HAM BEM Uncen, Darki Uropmabin, bersama para perwakilan BEM dan MPM. Dalam rilis pers tertulis yang diterima, mahasiswa secara tegas menyuarakan desakan mendasar serta tuduhan serius atas dinamika tata kelola yang sedang berlangsung di tubuh civitas akademika Uncen.

  Mereka menilai pihak universitas tidak sungguh-sungguh menyelesaikan persoalan yang merugikan ratusan mahasiswa kedokteran tersebut. “Ada manipulasi administrasi yang dilakukan oleh lembaga Uncen kepada mahasiswa Uncen,” tegas Darki dalam rilis resmi BEM dan MPM Uncen.

  Akar persoalan ini sebenarnya sempat dimediasi pada pertemuan aksi tanggal 14 September lalu. Kala itu, jajaran pimpinan universitas yang terdiri dari Wakil Rektor I, Wakil Rektor II, dan Wakil Rektor III, serta Dr. Septinus Saa yang ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Dekan Fakultas Kedokteran (FK), telah menerima dan merespon aspirasi massa. Pihak rektorat menjanjikan langkah cepat untuk menyelesaikan kejelasan status dan operasional di Fakultas Kedokteran.

  Namun, komitmen tersebut dinilai hanya menjadi janji manis di atas kertas semata. Dalam rentang waktu dua hari pascapertemuan terhitung sejak tanggal 14 hingga 16 September Dr. Septinus Saa yang telah ditunjuk resmi sebagai Plt Dekan diketahui tidak kunjung hadir secara fisik di Fakultas Kedokteran.

  Sebanyak 96 mahasiswa dokter muda Papua yang memuat harapan besar terpaksa menggantung nasib tanpa kepastian dan tanpa pendampingan pimpinan fakultas.

​Kekecewaan mahasiswa kian memuncak ketika upaya komunikasi langsung justru diabaikan.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|